KOMERSIAL

Sabtu, 16 April 2011

Menjaga Hati

Dalam pergaulan sehari-hari hendaklah kita tetap mengedepankan logika daripada emosi. Meminjam istilah yang sangat populer "Hati boleh panas, tetapi kepala harus tetap dingin".
Sebagai contoh dapat kita ambil saat kita menhadapi kejadian atau isu yang berbau SARA. Semisal kejadian perusakan/pembakaran rumah ibadah/gereja di Temanggung. Saat peristiwa itu terjadi, banyak teman-teman saya yang beragama Nasrani ramai-ramai membuat status di berbagai situs jejaring sosial (utamanya facebook) yang intinya secara implisit menyalahkan umat Islam.
Saya sendiri cuma berpikir begini: Apa sih gunanya mereka membuat statemen seperti itu? Siapa yang akan membaca statemen mereka? Rasanya nyaris mustahil para pelaku perusakan rumah ibadah itu, orang yang seharusnya menjadi tujuan dibuatnya statemen mereka, membaca status mereka.
Jadi siapa akhirnya yang membaca statemen mereka?
Tentu saja semua teman-teman mereka di situs jejaring sosial yang mau tidak mau harus membaca statemen mereka. Orang-orang yang secara sadar sudah mereka akui  dan diputuskan untuk dijadikan teman-teman mereka. Orang-orang yang sama sekali tidak bersalah dan tidak ada hubungan sama sekali dengan peristiwa pembakaran rumah ibadah. Orang-orang yang menjadi teman mereka yang seharusnya mereka jaga perasaannya.
Akibatnya?
Paling tidak hal tersebut akan membuat teman-teman mereka yang muslim merasa tidak enak.
Terus apa pengaruhnya terhadap para pelaku yang sebenarnya? Tidak ada sama sekali!
Apa mereka pikir umat Islam mendukung tingkah laku para perusuh itu? Sungguh tidak sama sekali. Saya yakin sekali, sebagian sangat besar umat Islam tidak mendukung dan bahkan menentang  tindakan para perusuh melakukan perusakan rumah ibadah.
Contoh paling aktual yang bisa kita ambil sebagai pelajaran adalah peristiwa pembom bunuh diri di sebuah masjid di Cirebon. Di situ dapat kita lihat bahwa para perusuh itu bukan hanya memusuhi umat atau rumah ibadah agama lain bukan? Mereka bahkan memusuhi orang-orang yang satu keyakinan. Ini membuktikan bahwa mereka saat ini menjadi musuh bersama bagi warga Indonesia yang mendambakan perdamaian.
Oleh karena itu saya selalu berpikir seribu kali dan semoga tidak akan pernah membuat status atau statemen di situs jejaring sosial yang berpotensi membuat teman-teman saya yang berbeda keyakinan menjadi tersinggung atau paling tidak membuat mereka menjadi tidak enak hati.
Kenapa saya selalu berusaha menjaga diri dan sebisa mungkin menghindarkan diri dari membuat statemen-statemen semacam itu?
Itu saya lakukan karena menurut saya, jika saya membuat statemen yang berbau SARA yang secara implisit maupun eksplisit menyalahkan pemeluk atau ajaran agama tertentu, maka sama halnya saya berkata kepada mereka begini:
"Ini lho kelakuan saudara-saudaramu! Ini lho ajaran agama yang kamu anut!"
Misalnya jika saya membuat status atau tautan di facebook yang isinya begini "Pendeta Terry Jones akan membakar Al-Quran".
Bukankah sama saja saya menunjuk hidung teman-teman saya yang beragama Nasrani sambil berkata:
"Nih lihat! Kelakuan pemimpin agamamu! Ekstremis, rasialis, tukang hasut, tidak toleran, dan lain-lain!".
Bukankah sama saja saya menyalahkan dan menyama-ratakan kelakuan teman-teman dan sahabat-sahabat saya yang beragama Nasrani dengan kelakuan Pendeta Terry Jones.
Menurut saya itu sama sekali tidak fair.
Pendeta Terry Jones hanyalah oknum. Saya yakin sekali, sebagian besar umat Nasrani tidak seperti itu. Teman-teman dan sahabat-sahabat saya umat Nasrani pastilah tidak seperti itu. Mereka semua adalah teman-teman dan sahabat-sahabat saya yang baik. Orang-orang yang akan selalu berusaha saya jaga perasaannya. Orang-orang yang yang tidak pernah akan saya sakiti baik secara perkataan maupun perbuatan.
Jadi, ke depan saya berharap, agar kita semua, baik yang beragama Islam maupun teman-teman yang berbeda keyakinan agar lebih mengedepankan tenggang rasa, menjaga perasaan dan berpikir lebih dewasa bila akan bertindak, berkata, menyatakan pendapat atau membuat suatu statemen.
Saya rasa ini akan berpengaruh lebih baik untuk menjaga kerukunan dalam pergaulan sehari-hari.
Wallahu alam bishawab.
Salam BKH ...

Resep Rahasia KFC


Legenda penuh misteri tak terpecahkan tantang resep ayam goreng tepung KFC yang ditemukan oleh Kolonel Harland Sanders berupa ramuan 11 tanaman dan rempah-rempah beserta takarannya sudah bertahan sejak tahun 1940 sepertinya tidak pernah selesai dibicarakan. Menurut saya, misteri kerahasiaan resep itu memang tidak akan pernah terpecahkan.
Kita tidak akan pernah mampu menemukan resep rahasia tersebut. Kenapa? Karena resep rahasia itu sebenarnya ada di dalam pikiran kita masing-masing. Keyakinan bahwa resep rahasia itu memang sesuatu yang luar biasa sulit ditiru dan merupakan perpaduan bumbu yang sangat enak telah tertanam kuat dalam alam bawah sadar para penggemarnya.
Jadi ketika mereka memakan ayam goreng KFC, otak mereka sudah menyatakan bahwa rasanya enak. Karena fungsi otak adalah sebagai pengendali organ tubuh yang lain termasuk lidah sebagai bagian tubuh yang bertugas mendeteksi cita rasa makanan, maka otomatis lidahnyapun akan menyatakan bahwa ayam goreng KFC rasanya memang sangat lezat. Kelihaian manajemen dan terutama bagian PR-lah yang membuat legenda ini terus berlangsung hingga kini.
Padahal kalau kita mau berpikir rasional atau menggunakan akal sehat kita, kelezatan ayam goreng KFC sebenarnya sudah tersaingi (kalau tidak boleh disebut dikalahkan) oleh beberapa franchise ayam goreng tepung kelas kaki lima. Tengoklah ayam goreng tepung kelas kaki lima semisal merek S*B*NA atau S*R*SO, dan lain-lain. Dari segi citarasa, ukuran, apalagi kalau ditinjau dari segi harga yang bisa mencapai hanya 40%-nya saja., maka menurut saya seharusnya KFC sudah keok.
Mungkin hanya tinggal satu saja keunggulan rasional yang dimiliki oleh KFC dibanding pesaing-pesaing kecilnya itu, yaitu tempat dan kemasannya yang memang lebih representative. Dan keunggulan utamanya ya seperti yang sudah kita bahas di atas berupa pikiran irasional tentang resep rahasia ayam goreng KFC.
Mari kita berpikir rasional dan cintailah produksi dalam negeri.

Salam BKH ...

Senin, 04 April 2011

PEDULI SESAMA

Suatu saat di satu wilayah terjadilah bencana alam yang luar biasa. Kepungan lahar mengepung dua buah desa.  Jika tidak ada suatu keajaiban, maka desa dan seluruh penduduknya akan lenyap terkubur.
Tetapi karena pemimpin kedua desa itu adalah orang-orang yang sangat taat beribadah, maka Tuhan masih berkenan memberikan kesempatan kepada keduanya untuk menyelamatkan penduduk desa itu. Dia mengutus dua orang malaikat untuk menyampaikan maksudnya kepada mereka untuk menyelamatkan warga desanya. Tuhan hanya memberikan satu syarat yang tertulis dalam surat yang terbungkus amplop tertutup. Isinya  yaitu persyaratan bagi kedua pemimpin desa itu dalam memilih siapa  saja yang akan diselamatkan. Surat itu diperintahkan dibaca setelah kedua pemimpin itu selesai menjalani ujian.
Malaikat itupun membawa mereka ke atas bukit yang tinggi. Tempat yang baru saja disediakan untuk menampung warga desa mereka.
Secara terpisah, tanpa mengetahui satu sama lain kemudian mereka ditawarkan siapa saja yang akan diselamatkan.
Malaikat: “ Hai Tuan A. Urutkan siapa saja penduduk desamu yang akan kau selamatkan?”
Tuan A : “Saya dahulu Tuan”. Jawabnya.
Malaikat : “Apa alasan Tuan A memilih diri sendiri pertama kali?”.
Tuan A: “Saya akan mempersiapkan dan memimpin mereka kembali agar desa menjadi makmur. Tanpa saya, saya takut mereka akan seperti anak ayam kehilangan induk Tuan. Mereka akan kebingungan”.
Malaikat: “Kalau begitu, hanya Tuan yang dapat saya selamatkan. Setelah ini segeralah Tuan  menuju ke desa Tuan”.
Dalam hati Tuan A bertanya-tanya, campur antara rasa sedih karena tidak bisa menyelamatkan keluarga dan warga desanya, dengan rasa suka karena dirinya selamat dari bencana.
Kemudian malaikat menanyai Tuan B.
Malaikat: “Wahai Tuan B. Urutkan siapa saja penduduk desa Tuan yang akan kau selamatkan?”.
Tuan B: “ Ibu dan Bapak saya Tuan …”.
Malaikat: “Lalu …?”
Tuan B: “ Anak dan istri saya Tuan …”
Malaikat: “Lalu …?”
Tuan B: “ Kakek dan nenek saya Tuan …”
Malaikat: “Lalu …?”
Tuan B: “ Pegawai-pegawai saya Tuan …”
Malaikat: “Lalu …?”
Tuan B: “ Tetangga-tetangga saya Tuan …”
Begitu seterusnya sampai kemudian dari seluruh penduduk desa itu, hanya  tinggal dia yang belum disebutkan namanya.
Kemudian untuk terakhir kalinya malaikat itu bertanya lagi: “Lalu …?”
Tuan B: “Kalau Tuan masih berkenan, mohon saya juga ikut diselamatkan Tuan …”
Malaikat: “Apa alasan permintaanmu ini …?”.
Tuan B: “Saya ingin mendampingi dan melayani mereka Tuan. Saya bahagia menjadi pelayan bagi warga saya Tuan …”.
Malaikat: “Baiklah … Permintaanmu dikabulkan …”.
Begitu melihat seluruh penduduk desa yang dipimpin oleh sahabatnya diselamatkan, Tuan A bertanya setengah protes kepada malaikat.
Kata Tuan A “Wahai Tuan Malaikat. Kenapa sahabatku bisa menyelamatkan seluruh warga desanya sedangkan saya tidak …?”.
Dengan tenang sang malaikat itu menjawab “ Tuan-tuan sekalian. Apa yang saya lakukan adalah sesuai dengan perintah Tuhan kepada saya. Marilah kita buka surat ini dan kita baca isinya …!”.
Malaikat membuka surat dan mereka bertigapun dapat membaca isi surat itu:
“PERINTAHKAN MEREKA MEMILIH SATU PERSATU PENDUDUK DESA YANG AKAN DISELAMATKAN. SIAPAPUN BOLEH MEREKA PILIH, SYARATNYA CUMA SATU “MEREKA MENJADI ORANG TERAKHIR YANG HARUS DISELAMATKAN. APABILA MEREKA SUDAH MENYELAMATKAN DIRINYA SENDIRI, MAKA MEREKA TIDAK LAGI DAPAT MENYELAMATKAN PENDUDUK DESA YANG LAIN. INI ADALAH HADIAH DAN UJIAN BAGI KEIKHLASAN MEREKA BERDUA”.
Malaikat berkata: “Tuan A, kamu memang orang shaleh yang taat beribadah, tetapi Tuan lebih memikirkan diri sendiri daripada orang lain. Tuan lebih memikirkan keselamatan diri sendiri. Tuan menganggap tuan begitu penting di hadapan warga, sehingga tuan merasa bahwa warga desa tidak akan mampu bertahan tanpa keberadaan Tuan. Pergilah ke desa yang telah saya sediakan …”.
Malaikat itu berkata lagi: “Tuan B, anda adalah seorang pemimpin yang sesungguhnya. Taat beribadah dan lebih memikirkan kepentingan orang lain daripada tuan sendiri. Tuan memimpin warga desa tuan sebagai pelayan. Tuan tidak pernah merasa lebih penting dari orang lain. Berbahagialah tuan dengan seluruh warga desa Tuan. Tempatilah desa yang telah saya sediakan … !”.

Tuan A terperangah. Dia merasa malu dan sedih karena hanya dia sendiri yang hidup di desanya. Tanpa keluarga, tanpa tetangga dan tanpa warga desanya.
Sedangkan Tuan B hidup berbahagia dengan seluruh keluarga dan warga desanya.
Moral cerita:
Ketaatan dan keshalehan yang hanya dalam berhubungan dengan Tuhan tidaklah cukup. Itu tidak akan mendatangkan kebahagiaan. Ketaatan kepada Tuhan harus disertai keshalehan sosial. Yaitu keshalehan ketika bergaul dengan keluarga, tetangga, dan orang-orang lain di sekitar kita. Itulah bentuk keshalehan yang lengkap .
Salam …

Kamis, 31 Maret 2011

TIRU-TIRU JEPANG

TIRU-TIRU
Sebelum bencana tsunami melanda Jepang, saya pernah diceritai bahwa di Jepang, walaupun sedang jalan-jalan dipinggir jalan raya yang padat, suasana terasa sunyi dan tenteram. Hampir tidak pernah terdengar suara klakson berbunyi. Sejak saat itu saya mencoba meniru perilaku berlalu-lintas mereka. Jadi sudah lama sekali klakson mobil ataupun motor saya tidak mengeluarkan bunyi. Seingat saya terakhir berbunyi sekitar tiga minggu yang lalu saat sebuah (…atau sesosok atau seonggok ya ?) angkot tiba-tiba berhenti dan minggir mengambil penumpang ( Apakah anda termasuk orang yang beruntung pernah menyaksikan momen langka sekelas melintasnya komet Halley ini ? He … He … He … Guyon ... Saya rasa momen seperti ini di Jakarta bukanlah sebuah peristiwa langka bukan? ) Saat itupun dalam hati saya dengan penuh pembenaran berkata, “ Ah … jelas saja di Jepang klakson gak pernah bunyi, lha wong di sana ga ada angkot yang jalannya kayak bus tingkatnya Harry Potter gini …”. Dalam bahasa kerennya, mereka tidak pernah membunyikan klakson karena semua hal mendukung. Atau kata Ki Narto Sabdo Everything is ok … Guyon lagi …
Ternyata praduga bersalah yang saya tuduhkan tadi tidaklah benar adanya. Dari media masa, kita ketahui bahwa dalam situasi bencanapun, ternyata masyarakat Jepang masih tetap mempertahankankan budayanya yang begitu tinggi dalam berlalu-lintas. Mereka tetap saling mengalah, saling memberi jalan dengan tersenyum dalam suasana macet dan tentunya tetap pantang membunyikan klakson. Pokoknya klakson hanya dibunyikan hanya dalam keadaan yang benar-benar diperlukan ( dan saya tidak tahu keadaan  yang benar-benar diperlukan itu adalah keadaan yang seperti apa. Lha wong pas macet akibat bencana saja mereka tetap bersikap tenang dan adem ayem kok. Atau jangan-jangan fasilitas klakson hanya dibuat khusus untuk produk kendaraan yang diekspor ke Indonesia saja …).
Jadi kalau kemudian saya membenarkan tindakan saya membunyikan klakson karena angkot yang mendadak berhenti, jelas saya telah meremehkan budaya berlalu-lintas orang Jepang. Jangankan cuma angkot, suasana chaos mirip film-film Hollywood saja bisa mereka hadapi dengan tenang. Kalo kita bandingkan dengan di Amerika (apalagi dengan negeri tercinta ini), jangankan bencana asli, bencana di film saja, lalu lintasnya sudah kacau balau, klakson di bunyikan dimana-mana. Ya kan? Ini menunjukkan perilaku berlalu lintas masyarakat Jepang adalah yang terbaik di dunia.
Sejak saat itu (maksudnya sejak membaca informasi media tentang tsunami), saya bertekad untuk lebih dislipin lagi dalam berlalu lintas, walaupun konsekuensinya kadang-kadang jadi seperti orang aneh. Sebelumnya (maksudnya sebelum meniru-niru tidak memencet klakson sembarangan), sebenarnya saya sudah mencoba menerapkan kebiasaan disiplin berlalu lintas. Contonhya, saya tidak pernah masuk jalur busway walaupun kosong, tidak berhenti melebihi garis di traffic light, menghidupkan lampu di siang hari dan selalu lewat jalur lambat kalo pakai motor. Pokoknya berusaha sesuai aturannya Pak Polisi dah. Sesuatu yang saya peroleh dan saya pelajari saat masih bekerja dan tinggal di Surabaya. Saya rasa untuk urusan yang satu ini, Jakarta masih perlu belajar dari Surabaya. Kenapa di Surabaya lalu lintas bisa lebih tertib? Itu karena polisi di Surabaya lebih tegas dan rajin menilang para pelanggar lalu lintas. Mereka bahkan tidak segan-segan mengejar para pelanggar, bahkan bonekpun tak luput dari tilang. Soal kelanjutan kejadian setelah tilang, saya tidak tahu. Tetapi yang jelas, efek jera yang ditimbulkan akan tetap ada.
Kembali ke Jakarta. Soal lalu lintas di Jakarta, saya punya cerita menarik. Pernah dalam perjalanan saya ke kantor menggunakan sepeda motor, saat melewati jalan D.I. Panjaitan, seperti biasa saya lewat jalur lambat dan seperti hari-hari lainnya juga, jalur lambat sepi karena kebanyakan kendaraan lain uyek-uyekkan lewat jalur cepat. Tetapi hari ini rupanya ada yang special. Karena pada saat berhenti di lampu merah, cuma motor saya satu-satunya kendaraan yang ada di jalur lambat, sementara di jalur cepat ratusan kendaraan berjubel-jubel saling mencari celah untuk melewati. Akibatnya saat lampu hijau menyala, saya dengan santai melenggang, sementara keadaan di sebelah sana riuh rendah oleh bunyi klakson dan gas yang digeber-geber. Rasain … ! Kata hati saya sambil menyunggingkan senyum licikku. Hi … hi … hi …
Jadi, dengan segala konsekueinsinya seperti waktu tempuh lebih lama, selalu menjaga jarak aman dengan kendaraan (terutama) angkot di depannya, dan lain-lain, saya bertekad akan terus berusaha meningkatkan kedisiplinan saya dalam berlalu lintas. Saya bahkan akan mengingatkan dan akan selalu mengingatkan teman-teman saya yang menggunakan kendaraan dinas agar lebih santun dan tertib di jalan sebagai suri tauladan bagi pengguna jalan yang lain. (dalam berbagai pengalaman saya sering mendapati pengguna kendaraan dinas justru merasa lebih berhak melanggar lalu lintas karena merasa sebagai aparat pemerintah tanpa takut kena  ditilang. Yang masuk jalur buswaylah, yang mutar balik tidak pada tempatnya lah, dan lain-lain). Saya berharap, suatu saat masih menangi/mengalami dan menjadi saksi hidup di mana tertib lalu lintas benar-benar menjadi kenyataan di jalanan di bumi pertiwi tercinta. Saya yakin, tidak hanya saya, banyak teman-teman saya juga berharap seperti itu.
Untuk mewujudkannya, mari kita berusaha dan terus berusaha. Mencoba dan terus mencoba meningkatkan kedisiplinan kita di jalanan. Kalaupun kemudian kita tidak sempat menyaksikannya, setidaknya kita sudah pernah menerapkannya untuk diri kita sendiri. Dan itu lebih baik dari pada tidak pernah sama sekali …

Kamis, 24 Maret 2011

STIGMA

Saya akan menyebutkan beberapa kata. Carilah kata-kata lain yang berhubungan paling erat dengan kata-kata tersebut, dan saya akan mencoba menebak apa kira-kira yang terlintas di pikiran anda.
Belalai = ………
Cula = ……..                                
Piramid = …….
Saya yakin dengan spek akademis yang anda miliki saat ini, tiga kata yang terlintas di pikiran anda adalah Gajah, Badak dan Mesir. Benar bukan ? Saya sama sekali tidak punya kemampuan membaca pikiran atau kemampuan paranormal lainnya, tetapi kata-kata tersebut memang berkorelasi demikian kuat dan tertanam di benak hampir semua orang dan sangat sulit dipisahkan. Sayangnya …. Bagi kita semua, pegawai Direktorat Jenderal Pajak … Korelasi kata-kata GT dengan PAJAK yang beredar di masyarakat memang sudah sedemikian kuat. Sekuat hubungan kata BELALAI dg GAJAH, se-erat CULA dengan BADAK dan se-khas hubungan PIRAMID dengan MESIR.
Jika anda mencoba berdialog dengan masyarakat umum dengan pajak sebagai topik utama, maka hampir bisa dipastikan bahwa mereka akan membahas Gayus sebagai hal yang paling menarik untuk dibicarakan. Keadaan seperti iIni mungkin akan bertahan paling tidak 5-10 tahun ke depan (saya berharap perkiraan saya ini salah). Mengapa saya berani memperkirakan waktu yang sangat lama untuk memulihkan ini semua ? Karena fakta saat ini menunjukkan bahwa mengobok-obok DJP dan memojokkan pegawainya sedang menjadi dagangan politik paling laris. Dan kita semua tahu, bila beliau-beliau yang terhormat itu sudah menemukan komoditas seperti itu, maka kejadian selanjutnya sudah bisa kita tebak. Tidak peduli lagi moral, fakta, data, obyektifitas, logika atau apalagikah hanya sekedar menjaga perasaan dan penggunaan azas praduga tak bersalah. Mengharapkan hal seperti itu terjadi dalam pepatah Jawa diibaratkan “Kadyo nunggu kereming gabus kumambanging watu item” (Seperti menunggu tenggelamnya busa dan terapungnya batu hitam).
Memang tidak mudah membuat hiasan kristal yang indah. Butuh ketelitian, citarasa seni, biaya, waktu, bahan baku yang berkualitas, dan lain-lain. Tetapi untuk merusaknya, seseorang hanya membutuhkan sebutir kerikil kecil atau sekeping pecahan genting saja dan …, hancurlah semuanya. Dibutuhkan waktu lebih lama, usaha lebih keras dan biaya lebih tinggi lagi untuk menyusun kembali kepingan-kepingan kristal tersebut.
Kita hanya bisa berharap semoga orang-orang yang benar-benar terhormat di dewan yang terhormat segera muncul dan bersuara. Orang itu tidak perlu mendukung dan memuji-muji kita, tetapi cukup seseorang yang berbicara berdasarkan data dan fakta (kita harus yakin bahwa orang-orang seperti ini masih ada di sana). Kita juga berharap agar masyarakat  umum (yang nota bene tingkat kesejahteraannya adalah sasaran dan tujuan pokok dari semua yang kita kerjakan selama ini) segera memperoleh informasi yang berimbang, agar penilaian mereka perlahan-lahan berubah. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Mungkin saja opini yang mereka yakini adalah akumulasi dari beban hidup yang semakin berat, rasa rindu akan suatu institusi yang bersih dan informasi tidak berimbang dan cenderung menyesatkan yang setiap saat mereka terima melalui berbagai sumber.
Lalu apakah semua pihak di negeri ini memang memiliki penilaian seperti itu. Nah … Kalo tadi saya menggunakan kata sayangnya, maka di sini saya menggunakan kata untungnya. Ya … Untungnya pihak-pihak yang paling berkepentingan dengan kita, yaitu para Wajib Pajak yang mulia (saya menggunakan kata-kata yang mulia karena saking senangnya ibarat menemukan secercah cahaya di tengah kegelapan dan setitik air di padang gersang),lalu  KPK dan kemudian ada juga dari pihak luar negeri.
Wajib Pajak (tepatnya mayoritas Wajib Pajak yang beritikad baik, aktif dan berhubungan langsung dengan petugas pajak), pihak yang paling merasakan efek positif dari modernisasi, rata-rata mengakui bahwa perubahan yang terjadi sangat signifikan dan positif. Utamanya dalam hal integritas dan kinerjanya. Sebagai contoh suatu saat ketika kami diundang untuk sosialisasi peraturan perpajakan baru di sebuah lembaga.Kami datang tepat waktu jam 08.00 WIB sesuai jadwal acara. Merekapun kelabakan karena belum siap. Dan waktu acara selesai kami menolak dengan halus saat hendak diberi uang tranport dan cinderamata.  Mereka tampak terkagum-kagum. Salah seorang pengurusnya sempat berkata begini “Kalo mengundang orang pajak, persiapan kita harus sesuai jadwal. Sekarang mereka tepat waktu”.
Kemudian dari pihak KPK. Lembaga yang masih mandapat kepercayaan publik ini menyatakan bahwa saat ini DJP sudah memiliki integritas yang sangat baik dan menyatakan bahwa hampir tidak ada lagi gratifikasi di dalamnya. Dan yang terakhir adalah adanya penilaian dari pihak luar negeri yang menyatakan bahwa terbongkarnya kasus GT justru merupakan konsekuensi dari berjalannya roda modernisasi di instansi ini. Sejumlah negara bahkan berniat melakukan studi banding masalah modernisasi di DJP.
 Jadi, dari merekalah kita bisa memulai. Untuk membuktikan tekad kita bahwa kita sudah melakukan “SESUATU”. Sebuah  reformasi birokrasi paling fenomenal yang pernah ada di negeri ini. Yang mampu membalikkan segala sesuatu dengan sangat cepat. Membalik jumlah bad man yang dulunya mayoritas menjadi minoritas. Memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada orang-orang yang punya integritas untuk mengadi. Dari mereka juga (utamanya dari Wajib Pajak) kita berharap adanya informasi yang bersifat getok-tular (dari mulut ke mulut) mengenai  modernisasi DJP untuk mengubah penilaian masyarakat umum mengenai DJP, mengenai integritasnya, mengenai kinerjanya dan mengenai sebuah institusi yang mereka impikan ...
Akhirnya marilah kita berdoa, semoga ada campur tangan Tuhan di sini. Agar kita mampu bangkit, berjalan dan kemudian berlari ke depan memimpin perubahan. DJP ……. Maju ……. Pasti !!!

SETIAP ORANG DILAHIRKAN KAYA RAYA


Percaya ndak kalo kita semua sebenarnya sangatlah kaya raya? Kalo ga percaya dan masih ragu-ragu mari kita hitung nilai aset yang secara tidak sadar telah lama kita miliki.
Apakah anda memilik anak (semoga yang belum dikaruniai anak segera mendapatkannya) ? Jika anda memiliki seorang anak, bolehkah jika anak anda dibeli senilai 100 milyar ? Jawabannya tentu saja tidak. Jadi silahkan hitung berapa nilai kekayaan bagi orang yang memiliki lebih dari satu anak. Kemudian untuk ayah kita. Bolehkah beliau dibeli seharga 100 miyar? Pasti tidak boleh. Padahal nilai ibu kita adalah 3 kali nilai ayah kita. Belum lagi lengan senilai  5 milyar perbatang , mata 10 milyar perbiji dan akan meningkat harganya jika dijual sepasang, yaitu menjadi sekitar 25 milyar. Anda bahkan tidak mungkin mau dibayar  1 trilyun jika kesehatan anda diganti dengan suatu penyakit kronis.
Tentu saja itu hanyalah ilustrasi. Nggak ada yang mau beli semua aset-aset tersebut. Tetapi bukankah merupakan suatu fakta yang tak terbantahkan jika kita memiliki sesuatu yang berharga sangat mahal yang kadang-kadang kita sendiri tidak menyadarinya.
Saya tidak meremehkan setiap problematika yang setiap saat selalu menyertai kehidupan kita. Saya cuma berharap agar teman-teman yang merasa menghadapi persoalan yang seakan-akan tidak terselesaikan menjadi merasa lebih ringan dengan mengingat bahwa kita masih memiliki segala sesuatu yang mampu membuat kita bahagia. Jadi bagi yang merasa terbebani karena masalah keuangan, pekerjaan, pasangan hidup, keluarga, dan lain-lain, marilah kita berhitung kembali. Lebih besar yang mana, nikmat yang kita miliki ataukah persoalan yang kita hadapi. Kalo menurut hitungan kita nikmat yang ada masih lebih besar, maka itu merupakan modal yang bagus untuk menyelesaikan masalah yang ada.  Jika menurut anda ternyata persoalannya sudah sedemikian berat dan sepertinya tidak terpecahkan, maka saya hanya bisa mendoakan agar persoalan yang anda hadapi segera menemukan jalan keluar …

ORANG-ORANG SPESIAL

Tanpa sadar kita sering menunggu sesuatu yang sebenarnya setiap saat sudah ada di pelupuk mata kita sendiri. Sebagai contoh, coba mari kita lihat isi perabot rumah kita. Terutama untuk peralatan makan yang bagus-bagus atau yang paling bagus. Apakah setiap hari peralatan itu telah kita gunakan? Kalau sudah ya alkhamdulillah. Tetapi jika belum, kapan lagi kita akan menikmatinya. Apakah kita mesti menunggu orang-orang spesial dan/atau momen yang spesial untuk menggunakannya?. Hmm … Kalau begitu maka segera ambil, keluarkan dan gunakan semuanya hari ini juga. Lho kok ?
Ini faktanya. Anda kira siapakah orang-orang spesial yang kita tunggu selama ini. Siapa yang lebih spesial buat kita melebihi orang tua, anak dan istri/suami kita ?
Anda kira momen spesial apakah yang kita tunggu selama ini ? Momen spesial model apalagi yang melebihi keindahan saat berkumpul dan bercanda ria dengan keluarga kita?
Ya. Memang begitulah adanya. Orang tua, anak dan istri/suami adalah orang-orang yang paling berhak mendapatkan segala sesuatu yang terbaik yang kita miliki. Merekalah orang-orang spesial yang sesungguhnya, yang setiap saat selalu menghadirkan momen-momen paling spesial dalam hidup kita. Mereka pula yang paling berhak atas kasih sayang kita, senyum dan keramahan kita, perlindungan kita, dan segala sesuatu yang baik-baik yang mampu kita berikan.
Oleh karena itulah, sekali lagi saya katakan, segera ambil dan keluarkan peralatan makan minum yang terbaik yang ada di rumah kita. Jadikan malam ini sebagai makan malam special, menggunakan peralatan spesial, bersama orang-orang paling spesial!
Ataukah kita lebih suka jika perabot mahal itu tetap hanya dinikmati oleh kecoa, tikus dan semut ???