KOMERSIAL

Minggu, 21 Agustus 2011

Bazaar Akherat : Dept. Store Gratis Buat Pemulung ...


Bismillahirrahmanirrahim
Saya berlindung kepada Allah dari sifat riya’. Amin.
1313823855272374106
Keceriaan Mereka
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi  ketika di bulan Ramadhan. Beliau juga adalah sosok nabi yang memiliki kasih sayang yang luar biasa terhadap fakir miskin.
Bahkan Beliau pernah mengucapkan suatu do’a yang menunjukkan kasih sayang Beliau terhadap kaum duafa :
Ya Allah, hidupkan aku sebagai orang miskin, dan matikan aku juga sebagai orang miskin, serta kumpulkan aku pada hari kiamat bersama-sama orang-orang miskin.
Rasanya mustahil kalau kita bisa menyamai akhlak Beliau dalam bersedekah. Sebagai umat, kita hanya bisa berusaha mengikuti amalan Beliau sesuai kemampuan kita.  Di antaranya dengan berbagi di bulan penuh berkah ini.
Itu pula yang mendasari saya untuk mengadakan acara berbagi kepada kaum duafa yang saya namai dengan “BAZAAR AKHERAT”.
Kebetulan sekali pada beberapa hari sebelum bulan Ramadhan tiba saya mendapat amanah dari kakak ipar untuk membagikan baju kepada kaum duafa. Baju yang akan dibagikan hanya untuk kaum perempuan dari bayi sampai ke ukuran dewasa terdiri dari kurang lebih 60 pakaian baru dan 40 pakaian bekas yang kondisinya masih baik. Kali ini kami memilih para pemulung yang biasa mangkal di komplek perumahan kami. Karena jumlah baju yang cukup banyak maka saya mengambil inisiatif membuat sebuah acara amal yang unik. Lain daripada yang lain.
Unik yang saya maksud bukan unik dalam arti aneh, tetapi unik yang bertujuan agar tingkat kepuasan kaum duafa yang menerima sedekah lebih tinggi dan lebih berkualitas. Kalau umumnya pemberian bingkisan/sedekah disampaikan dengan cara dibagi, kali ini saya akan memberikan suatu kesempatan yang jarang dimiliki oleh mereka, yaitu kesempatan untuk memilih baju sesuai dengan keinginan masing-masing. Para pria tentunya sangat memahami betapa senangnya kaum wanita jika mendapat kesempatan memperoleh baju sesuai dengan keinginan mereka bukan? Apalagi kaum wanitanya. Pastinya mereka lebih tahu lagi seperti apa rasanya.
Acara amal kami adakan tanggal 14 Agustus 2011 berlokasi di depan garasi. Kami mulai dengan pendataan para pemulung. Dari pendataan ini kami dapat nama 29 orang wanita dewasa dan 13 anak-anak. Alkhamdulillah. Berarti jumlah pakaian cukup.
Agar acara berjalan lancar, saya melibatkan anak, istri dan saudara yang kebetulan sedang berkunjung. Setelah semuanya siap kami segera mengundang mereka untuk hadir ke rumah kami.  Kurang lebih 10 menit kelompok pertama yang terdiri dari  3 orang dewasa dan 3 anak-anak datang. Dengan roman muka penuh keceriaan mereka segera memilih pakaian sesuai dengan keinginan masing-masing. Pakaian yang mereka pilih kemudian kami masukkan ke tas plastik dan kami berikan ke mereka. Suasananya kami buat persis seperti berbelanja di toko. Bahkan kepada mereka yang dewasa masih kami berikan “uang kembalian” sebesar Rp. 10.000,- per orang.  Nama mereka di daftar kami contreng sebagai tanda bahwa mereka sudah “berbelanja”. Kemudian secara bergantian kelompok lain berbondong-bondong berdatangan. Alkhamdulillah acara ini berjalan dengan sukses tanpa ada halangan apapun.
Sebagai catatan, ternyata ada juga teman-teman mereka yang laki-laki meminta baju. Ada 3 orang dewasa dan 3 anak-anak. Kami memutuskan begini:
1 orang kakek-kakek kami berikan baju bekas saya, yang dua mendapat celana trining dan 2 celana pendek (bekas semua). 2 anak laki-laki kami berikan baju dan sandal bekas anak saya yang masih SMP. Sedangkan yang satu lagi karena ukurannya yang masih terlalu kecil kami suruh datang lagi besok. Istri saya mau membelikan baju baru buat dia di pasar besok pagi. Sekali lagi Alkhamdulillah. Semua masalah teratasi dengan baik.
Mereka semua datang dengan ceria dan pulang dengan gembira.
Saya berharap semoga tahun depan saya diberi kemurahan rejeki dan kekuatan hati untuk mengadakan acara seperti ini lagi. Mungkin saya juga akan memohon dukungan dari rekan-rekan kompasioner  [Telkomsel Ramadhanku].
GAMBAR 1
1313771062410780396
Persiapan Bazaar Akherat
GAMBAR 2
1313770486681441844
Suasana Bazaar
GAMBAR 3
131382366189722528
Pamitan
Gambar diolah dari dokumentasi acara.
Video acara ini dapat disaksikan di sini: Bazaar Akherat

Rabu, 03 Agustus 2011

Bosan Hidup ? Berpuasalah ...


Sebagai seorang awam, sampai saat ini saya masih belum mendapat anugerah sebagai seseorang yang bisa menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita. Malahan sering menghadapinya dengan nada-nada kekhawatiran. Yang takut lemes lah, yang takut laparlah atau takut datangnya penyakit langganan saya, yaitu sariawan. Penyakit ini akan terrasa menyiksa jika datang pas bulan puasa. Perih sekali.
Tetpi tentunya saya tidak pernah berhenti berharap agar suatu saat saya mampu menjadi golongan orang-orang yang menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan gembira
Walaupun begitu, saya tetap tidak berhenti berharap dan berusaha mencari hikmah bulan Ramadhan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas saya yang awam ini. Bagi saya, banyak hal positif yang saya dapat setiap bulan suci ini datang. Saya hanya akan akan menyampaikan dua hal buat rekan-rekan semua.
Yang pertama adalah menghilangkan rasa jenuh yang sudah menumpuk selama berbulan-bulan
Kadang-kadang dalam hidup ini hati kita dilanda kebosanan. Sepertinya tidak ada yang bisa dilakukan atau ditunggu lagi. Tetapi dengan berpuasa, sepertinya hidup saya kembali memiliki target. Ada sesuatu yang setidak-tidaknya bisa ditunggu setiap hari. Yaitu datangnya waktu berbuka puasa. Jadi selama bulan puasa saya tidak pernah merasa jenuh karena setiap hari saya memiliki sesuatu yang menyenangkan yang akan saya peroleh.
Yang kedua adalah kembali merasakan fungsi dan nikmatnya karunia Allah yang namanya lidah
Tidak jarang kita merasa bosan dengan segala macam makanan yang ada. Terasa lapar tetapi tidak ada makanan yang menggugah selera. Sepertinya semua terasa sudah membosankan. Nah … Dengan berpuasa inilah saya merasa bahwa nikmat Allah yang namanya makanan itu adalah sesuatu yang luar biasa. Dan alangkah seringnya kita lupa untuk mensyukurinya. Setiap hari selama bulan puasa, semua makanan kembali terlihat enak. Es buah, es kelapa muda, kolak, rendang, roti terang, dan lain-lain bulan benar-benar terasa menggoda.  Bahkan kadang-kadang air putih atau sekedar tempe gorengpun mampu menerbitkan selera. Semua terasa nikmat pada waktu berbuka puasa. Seperti makanan yang baru saya kenal lagi. Rasanya lidah saya seperti terlahir kembali.
Semoga di bulan suci kali ini rekan-rekan bisa mendapat hikmah yang lebih besar dari yang saya peroleh selama ini.
Wallahu ‘Alam Bishawab
Selamat menjalankan ibadah puasa …

Senin, 25 Juli 2011

Indikator Institusi ...


Bersih tidaknya suatu institusi dapat di nilai dengan suatu indikator yang sangat sederhana. Yaitu dari kebiasan makan para karyawannya.
Ciri-ciri sebuah instansi yang bersih yaitu apabila karyawannya makan bersama di rumah makan, bayarnya sendiri-sendiri. Atau setidak-tidaknya dibayarin dulu, baru nanti diganti di kantor (bila malu). Pada awalnya saya meragukan pendapat yang dikeluarkan oleh Nurkholis Madjid ini. Tetapi setelah mengalami sendiri, ternyata teori ini kebenarannya mendekati 100%.

Sabtu, 11 Juni 2011

Hikmah : Tuhan Membalas Tekadku Berbuat Jujur


Pada waktu menjelang UASBN SD anak saya berlangsung, banyak rumor yang beredar bahwa nilai UASBN dapat dijamin tinggi dengan melakukan "SESUATU". Saya dan istri sama sekali tidak tertarik. Mending nilai UASBN anak saya rendah tetapi itu merupakan hasil keringatnya sendiri. Kemampuan diri sendiri yang dilandasi kejujuran. Melakukan "sesuatu" yang saya maksud di sini adalah meminta pihak tertentu meninggikan nilai hasil UASBN. Rupanya modus pembocoran soal sudah mulai bergeser dengan modus baru yang satu ini. Dengan memperoleh nilai tinggi, para orang tua berharap anaknya dapat masuk ke SMP-SMP negeri favorit. Ini akan membuat biaya sekolah menjadi irit dibanding harus masuk sekolah swasta.
Dan setelah ujian selesai, benar saja. Nilai anakku kalah dari beberapa temannya yang dalam kegiatan sehari-hari kemampuannya ada di bawah anakku. Nilai rata-ratanya tinggi sekali. Yang cukup aneh adalah ada keluarga teman anakku yang sudah tahu bahwa nilai UASBN-nya tinggi sebelum nilainya diumumkan. Tetapi saya sendiri tetap memilih untuk tidak berprasangka buruk kepada mereka. Menyalahkan orang lain bukanlah tipe saya. Sifat ini selalu saya buang jauh-jauh dari kehidupan saya. Sehingga saya tetap berpikir bahwa nilai anakku kurang tinggi karena mungkin memang kurang belajar (padahal nilai anakku cukup tinggi juga. Rata-rata 8,5. Anakku juga sama sekali tidak ikut bimbingan belajar. Saya kasihan kalau melihat anakku harus belajar seharian sampai kehilangan waktu bermainnya. Biarlah dia berkembang apa adanya dan tidak kehilangan masa anak-anaknya).
Saya kasihan sekali melihat anak dan istriku. Anakku sedih sekali. Istriku bahkan sampai menangis. Tapi saya sendiri tetap tegar. Saya sama sekali tidak menyesal. Menurutku ini tetap merupakan pilihan terbaik. Dalam riwayat pendidikan anakku, tidak boleh ada ketidakjujuran. Biarlah misalnya nanti terpaksa anakku tidak masuk SMP favorit dan harus bersekolah di sekolah swasta yang mahal dan mutunya kurang bagus, saya tetap akan menerimanya dengan lapang dada.
Pendaftaran dimulai. Karena Disdik DKI Jakarta sudah menggunakan PPDB-Online, saya percaya sekali tidak akan ada kecurangan di sini. Kecurangan hanya bisa dilakukan sebelum PPDB-Online dilakukan (dengan merekayasa nilai saat ujian UASBN SD). Anakku kudaftarkan di SMP-SMP negeri favorit yang posisinya paling dekat dengan rumah. Karena SMP yang paling kami inginkan adalah SMPN 252, maka urutan prioritas yang kami isikan di formulir (kalo gak salah Formulir F2) adalah:
1.SMP 252, 2. SMP 109, 3. SMP 255, 4. SMP 199, dan 5. SMP 139. Sebagai tanda terima kepada kami diberikan formulir F3. Kamipun tinggal memantaunya dari rumah melalui internet. Pertama kali kami buka, ternyata anakku sudah terlempar ke urutan pilihan nomor 4, yaitu SMP 199. Beberapa jam kemudian sudah terlempar ke pilihan ke 5, yaitu SMP 139. Dan akhirnya anakku terlempar juga dari pilihan terakhir. Yang paling mengecewakan, nilai anakku tepat berada di garis batas nilai yang tidak diterima di SMP 139.
Dan ada satu kejadian lagi yang sepertinya merupakan cobaan juga buat kami, yaitu ketidak tahuan kami akan adanya formulir F4. Formulir F4 yang kami pegang ini ternyata berfungsi mengubah pilihan di pendaftaran apabila kami tidak diterima di semua SMP yang kami pilih di formulir pendaftaran pertama (Formulir F2) dengan syarat pendaftaran belum ditutup. Tetapi mungkin karena saking kalutnya perasaan kami waktu itu sampai-sampai kami tidak tahu keberadaan formulir F4 beserta fungsinya. Kalau kami mengetahuinya pastilah kami akan datang ke tempat pendaftaran dan mengubah pilihan SMP-nya walaupun kualitasnya kurang bagus dan jaraknya cukup jauh dari rumah dan harus beberapa kali ganti angkutan. Yang penting masuk SMP negeri karena biayanya akan murah.
Jadi akhirnya anakku tidak diterima di semua SMP negeri dan harus bersekolah di SMP swasta. Tapi kami sudah menyiapkan hati kami untuk menerimanya.
Kalau dipandang saat itu, sepertinya ini merupakan hukuman dan cobaan dari Tuhan buat kami. Tidak diterima di pilihan terakhir dengan nilai tepat di batas bawah dan tidak tahu adanya formulir F4 dan fungsinya untuk mengubah pilihan sekolah. Dua kejadian itu pastilah akan membuat sesak napas semua orang tua yang sedang mencari sekolah untuk anak-anaknya.
Tapi ternyata di situlah Allah membalas tekad kami untuk mempertahankan kejujuran dan menolak berbuat curang.
Inilah fakta yang terjadi kemudian:
1. Tuhan menempatkan nilai anakku tepat berada di batas paling atas nilai pendaftar yang tidak diterima (berarti nilai anakku adalah nilai  tertinggi dari pendaftar yang tidak diterima di 5 SMP pilihan anakku).
2. Tuhan juga yang menutup mata kami agar tidak melihat formulir F4. Jika kami tahu ada formulir F4 kami pasti memanfaatkannya. Sehingga anakku akan diterima di SMP negeri yang kualitasnya biasa-biasa saja. Karena dilihat dari passing grade-nya, nilai anakku sudah pasti diterima.
3. Kedua keadaan di ataslah yang membuat anakku memenuhi persyaratan untuk melakukan pendaftararan di kesempatan terakhir. Yaitu pendaftaran untuk mengisi bangku kosong (bangku kosong yaitu formasi kosong yang ditinggalkan oleh anak yang diterima tetapi tidak melakukan pendaftaran ulang sampai dengan batas waktu yang ditentukan).
Setelah proses dafar ulang selesai maka masing-masing sekolah mengumumkan jumlah bangku kosong yang ada. Di SMP 252 ada 5 bangku kosong. Syarat mendaftar adalah siswa yang benar-benar tidak diterima di semua SMP pada pendaftaran pertama. Saya langsung merinding waktu itu.
Bukankah dengan demikian anakku memenuhi syarat untuk ini ?
Ditambah lagi nilai UASBN anakku adalah nilai tertinggi dari pendaftar yang tidak lolos pada pendaftaran pertama. Itu artinya anakku akan melakukan pendaftaran dengan modal nilai UASBN tertinggi dan tinggal tunjuk saja mana SMP yang ingin dimasuki.
Demikianlah. Akhirnya kami melakukan pendaftaran untuk pengisian bangku kosong. Urutan prioritas tetap sama dengan pendaftaran pertama. Yaitu : 1.SMP 252, 2. SMP 109, 3. SMP 255, 4. SMP 199, dan 5. SMP 139. Anakkupun berhasil masuk ke SMP yang kami idam-idamkan. Dekat dengan rumah (satu komplek dengan perumahan kami) dan merupakan sebuah SMP Negeri favorit.
Alkhamdulillah atas karuniamu Ya Allah ...
Kejujuran itu patut diperjuangkan ...

Wallahu alam bishawab

Tulisan ini saya persembahkan untuk Ibu Siami (Si Jujur Yang Malah Ajur - Kisahnya di sini ...) dan para orang tua yang anak-anaknya akan menjalani UASBN atau tengah berjuang untuk mencari sekolah buat anak-anaknya.

Jumat, 10 Juni 2011

Mahfud MD: Ada Sesuatu Yang Lain Dalam Dirinya ...

Sebenarnya sudah cukup lama saya ingin mengungkapkan perihal ini. Sesuatu yang baru saya temukan dalam diri seorang tokoh nasional. Yang membedakan dia dengan semua tokoh yang pernah saya amati. Ini adalah ciri-ciri seseorang yang menurut para ulama seharusnya layak untuk dipilih menjadi pemimpin.
Suatu sore saya melihat wawancara livenya dengan reporter TV ONE. Wawancara seperti ini oleh tokoh-tokoh nasional atau para politikus yang lain biasanya akan dianggap sebagai iklan gratis yang tidak boleh dilewatkan. Mereka akan memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan-kesempatan seperti ini sebagai ajang kampanye untuk kepentingan dirinya sendiri maupun untuk kepentingan partainya.
Tetapi itu tidak terjadi padanya pada wawancara live yang saya saksikan pada waktu itu. Saat itu dia adalah tokoh yang paling ditunggu pernyataannya terkait kasus uang sebesar 120 ribu dolar Singapura yang ditinggalkan oleh Nazaruddin. Kedua reporter TV ONE begitu menggebu-gebu bertanya dan mengorek keterangan darinya. Rating acara saat itu pastilah luar biasa tinggi. Suatu kesempatan emas bagi para oportunis untuk mencari dan mendongkrak popularitas.
Tapi lihatlah apa yang dia lakukan saat itu ? Meskipun wawancara sedang begitu seru dan topiknya sangat menarik dan aktual, tetapi begitu adzan Maghrib berkumandang dengan tegas dia memutus pembicaraan. Tanpa ragu-ragu dia menghentikan acara wawancara live itu karena akan melaksanakan ibadah sholat Maghrib. Saya benar-benar tidak pernah melihat tokoh lain melakukan ini. Adakah di antara pembaca yang pernah menyaksikan tokoh lain melakukan ini ?
Pada saat ditanya tentang kemungkinan maju sebagai calon presiden tahun 2014 dengan santai dia berkata: “Saya tidak ada potongan jadi presiden”. Tidak tampak ambisi yang besar dalam perkataannya.
Mahfud MD juga mengambil langkah tepat menghadapi serangan Ruhut Sitompul. Politikus yang ahli bersilat lidah itu dibuatnya mati kutu.
Wahai Tuan Mahfud MD ! Apabila anda maju sebagai calon presiden pada tahun 2014, apalagi jika berpasangan dengan Ibu Sri Mulyani (saya adalah salah satu orang yang pernah menikmati integritas wanita cerdas dan perkasa yang satu ini). Maka saya bersedia untuk dengan suka rela datang ke tempat pemilihan suara untuk memilih presiden. Sesuatu yang sampai saat ini belum pernah saya lakukan …
Semoga kali ini harapan saya tidak menemui kekecewaan lagi.
Wallahu alam bishawab …

Sumber : Kompasiana-Widayat

Rabu, 20 April 2011

MOBIL PENUH BERKAT

Saya tidak tahu apakah ini merupakan ujian atau anugerah dari Tuhan. Tetapi peristiwa ini bagi saya cukup mengherankan. Suatu kebetulan yang cukup aneh.
Sampai dengan saat ini saya belum mendapat karunia berupa penempatan kerja di kampung halaman sendiri (Bismillah. Moga-moga harapan saya terkabul). Oleh karena itu saya termasuk jarang berada di kampung sendiri.Mungkin paling banter frekuensinya setahun 2 kali saja.
Tapi dalam momen pulang kampung yang sebenarnya terbilang cukup jarang itu ternyata saya mengalami kejadian yang boleh dibilang cukup menarik. Dalam dua kesempatan pulang kampung dengan waktu yang berlainan itu saya dua kali didatangi oleh tetangga yang minta tolong untuk mengantar keluarganya ke rumah sakit (sayang salah satunya tidak tertolong). Dan rupanya peristiwa itu kemudian terulang.
Tetapi kali ini kejadiannya adalah di tempat kerja saya di Jakarta. Kejadian pertama adalah ketika ada tetangga kampung yang bekerja di Jakarta sakit. Karena kalau harus membesuk ke Jakarta terlalu jauh, maka Ibu saya menyuruh saya yang membesuknya. Walaupun jaraknya cukup jauh (saya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, sedangkan tetangga saya dirawat di RS Sumber Waras, Jakarta barat. Dan pada dasarnya saya orangnya malas bepergian), saya tetap menyempakan diri pergi ke rumah sakit itu (dalam keadaan seperti ini setan pasti bekerja sangat keras mencegah saya melakukan tugas mulia ini).
Alkhamdulillah akhirnya semua berlangsung sesuai rencana. Sayang sekali pada akhirnya tetangga saya yang sakit itu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tetapi saya masih bisa mensyukuri satu hal, yaitu bahwa saya masih sempat membesuknya sesuai perintah ibu. Jadi saya dan Ibu saya tidak dihinggapi rasa penyesalan walaupun tentu saja hati kami sangat sedih saat tetangga kami itu berpulang.
Rupanya kejadian demi kejadian yang mirip ini belum berakhir di sini saja.
Peristiwa terakhir yang saya alami juga tidak jauh berbeda dengan yang sudah-sudah. Saat saya mengantar anak saya periksa ke sebuah klinik saya menunggu di mobil karena parkiran penuh.Beberapa saat kemudian saya melihat seorang ibu dengan seorang perempuan yang masih muda menggendong anak kecil yang terus menangis.
Mungkin umur anak itu sekitar 3 atau 4 tahun. Saya menduga mereka adalah ibu dan anak bersama pembantunya.Mereka tampak kebingungan. Menelepon berkali-kali dengan roman muka memperlihatkan rasa cemas. Lama saya perhatikan. Saya pikir merka sedang menunggu jemputan atau angkutan umum.
Setelah bolak-balik menelepon kemudian si ibu sepertinya menuju ke arah saya. Mungkin mau menanyakan sesuatu. Rupanya tebakan saya salah. Ternyata ibu itu mau minta tolong diantar ke UGD-Rumah Sakit Islam Pondok Kopi mengantar anak kecil tadi. Dia baru saja mengalami musibah meminum cairan pembersih lantai merk Vi*al. Anak itu hanya tinggal dengan pembantunya di rumah. Bapak dan ibunya kedua bekerja. Saat itu kedua orang tuanya sudah ditelepon dan sedang dalam perjalanan pulang. Makanya si pembantu minta tolong ibu tadi untuk diantar ke klinik.
Klinik itu sendiri menyatakan tidak sanggup menangani dan menyuruh anak itu di bawa ke UGD-RSI Pondok Kopi. Tetapi saking tergesa-gesanya waktu berangkat, rupanya si ibu dan pembantunya tadi lupa membawa uang sehingga tidak ada ongkos untuk naik taksi.
Tentu saja setelah mendengar cerita ibu itu saya langsung mempersilahkan mereka masuk. Setelah memberitahu istri saya, secepatnya saya langsung menuju ke rumah sakit itu.
Alkhamdulillah jalanan cukup lancar. Jadi kira-kira seperempat jam kemudian kami sudah sampai di depan ruang UGD.
Anak itu segera ditangani oleh petugas. Ibu tadi berkali-kali mengucapkan terima kasih dan memohon maaf telah merepotkan. Tentu saja saya jawab bahwa saya sama sekali tidak merasa direpotkan dan malah merasa senang. Memang demikian itulah adanya.
Ibu itu sepertinya merasa bahwa saya sangat berjasa dan telah berbuat baik. Setelah itu kamipun berpisah.
Seandainya saya bertemu dengan ibu tadi, saya ingin katakan kepada beliau begini: Ibulah yang paling berjasa di sini. Ibulah yang membawa anak itu ke klinik, ibu juga yang meminta saya mengantar anak itu ke rumah sakit. Selanjutnya ibu pula yang merawat dan menjaga anak itu di UGD.
Saya hanya salah satu obyek dari rangkaian kebaikan ibu. Di sini ibu adalah subyeknya, pemeran utama dari lakon tentang perbuatan mulia ini. Saya hanyalah pemeran pembantu saja. Atau malah cuma figuran.
Saya berharap kedua orang tua anak itu berterima kasih mempunyai tetangga seperti ibu tadi. Tidak hanya kedua orang tua anak itu, sayapun seharusnya turut mengucapkan terima kasih karena telah dilibatkan dalam amal perbuatan baiknya.
Dan tentu saja saya tidak lupa bersyukur kepada Allah telah diberi kesempatan berbuat baik.
Demikianlah rangkaian cerita yang melibatkan mobil saya.
Sekali lagi seperti sudah saya kemukakan di awal cerita ini, saya tidak tahu ini merupakan ujian atau anugerah dari Yang Maha Kuasa.
Tetapi karena setiap sehabis mengalami peristiwa demi peristiwa hati kami merasa puas dan bahagia, maka kami menjuluki mobil kami sebagai MOBIL PENUH BERKAT ...

Selasa, 19 April 2011

DPR dan Tukang Sampah: Siapa lebih penting?

Suatu saat istri saya bercerita bahwa di sekolah anak saya yang masih TK, jika ada anak yang malas membaca atau menulis oleh gurunya akan ditakut-takuti bahwa besarnya mereka akan jadi tukang sampah.
Hmm … tukang sampah … Memangnya ada masalah apa dengan pekerjaan sebagai tukang sampah. Hati nurani saya benar-benar merasa terusik. Menurut saya, tukang sampah adalah pekerjaan yang sangat penting dan mulia. Tidak boleh ada yang merendahkan seseorang yang bekerja sebagai tukang sampah.
Kita cenderung menghormati sesuatu dari kemasannya tanpa memandang isinya.
Coba sekarang kita bandingkan peran tukang sampah jika dibandingkan dengan misalnya para anggota DPR di  negara kita, yaitu negara antah berantah.
Apakah aktifitas kita akan terganggu jika para anggota dewan yang terhormat itu tidak masuk kerja? Saya rasa bukan hanya tidak ada pengaruhnya terhadap kehidupan kita sehari-hari, tetapi bahkan ada dan tidak adanya mereka, masuk kerja atau absennya mereka kita tidak tahu.
Tetapi jika tukang sampah tidak datang selama 2 atau 3 hari saja. Apa akibatnya? Ibu-bu resah. Mekanisme kehidupan yang telah berlangsung selama ini langsung terganggu keseimbangannya. Ingat kasus sampah di Bandung bukan? Itu menunjukkan begitu pentingnya sosok seorang tukang sampah. Keberadaannya diperlukan, ketidakhadirannya dirindukan. Semua orang memerlukannya jasanya.
Sayang sekali semua ini tidak terdapat dalam diri para politikus di DPR (semoga tidak semuanya seperti ini). Jika melihat kinerjanya selama ini, barangkali banyak orang yang menilai bahwa mungkin lebih baik mereka tidur dan makan gaji buta saja sepanjang tahun, kemudian biaya operasionalnya dibuat untuk membangun dan memperbaiki gedung-gedung sd di seluruh tanah air. Kemungkinan besar hasilnya akan kelihatan lebih nyata.
Bayangkan pengaruhnya jika biaya studi banding ke luar negeri, pembangunan gedung baru, dan lain-lain dialihkan alokasinya menjadi biaya pendidikan, kesehatan, kredit usaha kecil, perumahan, dan lain-lain yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin. Tapi sekali lagi nampaknya kita cuma bisa membayangkan.
Coba bandingkan dengan para anggota parlemen di negara idaman kita, yaitu Indonesia. Di negeri ini para anggota DPR-nya benar-benar merupakan representasi dari rakyat yang diwakilinya. Gedung parlemen disana dihuni oleh orang-orang yang selalu ingat bahwa mereka setiap saat bisa dicabut nyawanya, tahu bahwa harta tidak akan dibawa masuk ke liang kubur dan jabatan adalah sebuah amanah yang kelak akan diminta pertanggung jawabannya.
Saat ini kabarnya, untuk menghargai dan menghormati para jasa tukang sampah, para anggota dewan di Indonesia juga tengah mengusulkan pembangunan perumahan khusus untuk para tukang sampah di seluruh Indonesia dengan dana sebesar 1,168 trilyun rupiah. Dan tampaknya rakyatpun mendukung sepenuhnya proyek prestisius yang mengundang decak kagum dunia itu. Sebuah negara yang demikian menghargai jasa-jasa warganya sendiri.
Lalu sayapun tersadar dari lamunan untuk kemudian berharap dalam hati, adakah kemungkinan para anggota dewan yang terhormat di negeriku bisa tergugah hatinya? Bisakah kemudian beliau-beliau berubah pikiran membatalkan rencana membangun gedung mewah dan ngotot mengalihkannya menjadi proyek nasional untuk membangun perumahan khusus untuk para tukang sampah di seluruh negeri kami? Saya menduga hampir seluruh rakyat negeri kami akan lebih setuju dengan proyek ini. Dan negeri kamipun kembali menjadi negeri yang bermartabat di mata dunia.
Wallahu alam bishawab